Berkelana Tak Berarah
Rabu,20:00(25/03/20).
Baru-baru ini rasanya banyak ngelakuin segala hal sendiri, kalo dulu cuma ngerasa kalo kesepian sendiri. Sekarang semuanya serba mandiri. Inget umur udah ngga lagi muda wkw. Ngga boleh kekanak-kanakan terus. Yang paling aku ngga paham seperti sedang dipermainkan takdir terlalu carut marut kadang terasa beginikah hidupku atau diluar sana mereka lebih complicated. Bahkan keputusan untuk pulang, pekerjaan, berteman sekarang lebih ikut andil di dalamnya apa karena aku sudah menerima kepribadianku. Mencintai setiap inci kekurangannya maupun lebihnya. Aku bahkan lebih proaktif atas segala tindak tanduknya, berpikir seberapa resiko yang akan diambil nantinya.
Aku akan bercerita sedikit tentang pulangku pada pertengahan Maret ini, benar-benar pulang yang tidak direncanakan. Bahkan rumah bagiku adalah tempat yang menyedihkan untuk pulang. Mungkin terdengar lebay. Tapi untuk aku yang dengan latar belakang keluarga berantakan itu seperti masuk ke wahana rumah hantu. Percayalah kalian yang seperti aku ini mungkin akan berpikiran sama. Kalo aku punya uang malah aku ingin membuat rumah kecil, dengan keluarga yang hangat didalamnya. Ekspetasiku sungguh jauh 1001%, wacana ingin piknik karena hectic bahkan gagal begitu saja. Aku datang disaat cuaca tidak mendukung, hujan. Memang aku suka, apalagi petrickor adalah favoritku. Tapi apadaya, harus mendekam dirumah yang horor suasananya. Kehangatan rasanya hampa, untung ada adik perempuanku dia yang selalu menjadi bahan kejailanku. Dia itu definisi emak-emak kalo marah bakal ngamuk kaya Thanos wkw. Tapi dia yang bikin aku selalu ingin pulang. Dia alasan tetep bertahan dan kuat. Sedih rasanya belum berkontribusi apapun untuk mereka. Aku masih berusaha agar bisa memberi apa yang ia butuh sebisaku. Semua tentu dengan ridho-Nya.
Komentar
Posting Komentar