redam, suara saia.

Entah bagaimana cara untuk menafsirkannya, aku sedang sakit. Aku takut. Bukan karena kematian akan cepat mengajakku pergi. Aku bersama banyak hal yang masih belum usai. Aku ingin menjadi manusia sok gagah yang bisa jadi andalan mereka. Kenapa segala yang berat diberikan pada aku? Apa ini karma atau pelajaran? Aku memilih opsi kedua saja. Semenjak mereka berpisah aku banyak mengheningkan diri, mengulik yang lalu, mengenang yang usai. Aku sok tahu, bahwa anak yang dulu egois ini sekarang diberi tamparan Tuhan dengan kerasnya. Bagaimana, sakit tidak? Andai aku anak baik dulu mungkin tidaklah semua menjadi boomerang saat ini, andai aku ngga dilahirkan, andai aku punya fisik yang kuat. Seolah aku tidak bersyukur. Lalu apakah aku hanya seperkian makhluk kecil yang engkau ciptakan untuk menjadi pelajaran. Aku yang selalu jadi bahan cerita yang mengudara, atau mungkin keluarga yang aku punya. Apa darah bermasalah mengalir pada keluargaku? Tuhan, aku juga mau bernafas seperti dulu engkau keluarkan aku untuk ada. Aku ingin menangis kencang, teramat kencang. Aku ingin pundak seorang yang mampu menumpu tumbangku. Sepi ini kian mengganggu. Aku ingin sembuh, rumah yang patah ini masih membutuhkan perekat untuk menyatu. Aku juga tidak tahu caranya seperti apa, tapi mungkin nanti akan aku temukan ia saat aku sembuh. Jangan biarkan manusia ini terlalu cepat pulang ke rumah, tanah ini masih ingin subur dengan pupuk. Bolehkan? Apa aku ini terlalu serakah? Kenapa doa yang aku minta tak kunjung sampai? Apa engkau lupa dengan hambamu? Maaf aku yang tidak sabaran, tapi aku yakin engkau dengar. Mungkin masih belum diberi saat ini, aku akan menunggu. Mengusahakan agar aku kuat, agar aku juga mampu bahagia.

Komentar

Postingan Populer