Pesan Kepada Yang Mencinta

Aku tidak yakin memulai apa yang diyakini dari suka lalu cinta atau semacamnya. Seolah trauma telah meresap jiwa. Aku tak yakin bahwa yang aku percaya, mungkin akan banyak pula membuat luka. Telalu banyak sakit, sampai tahun-tahun menjadi dewasa aku kuat. 23 tahun mendapat luka juga, kecewa. Aku takut bahwa ia lebih menginginkan parasku bukan aku dan banyak kekuranganku. Tak sepadan bahwa aku selalu harus jatuh cinta lalu terluka dengan babak belurnya, tidak akan lagi. Aku berkaca bahwa, aku ingin menjadi serampangan yang bebas tanpa beban tapi aku seolah hanya manusia. Ia selalu membawa masalah dalam hidup tak bisa menjadi semaunya. Lantas bagaimana mati dan selesai, tidak setelahnya bahkan masih banyak jalan panjang sampai ke surga. Buku, musik, sepi, dan pikiran yang berkecamuk dalam diri adalah hal yang aku suka menjadi manusia. Aku menjadi pengamat handal mencari karakter setiap manusia atau merenung setiap peristiwa. Namun adakalanya aku dihantui sepi, bahwa aku tidak mampu hidup sendiri. Aku butuh banyak obrolan tentang konspirasi hidup yang abstrak dengan ia yang sama suka membahasnya, atau menonton film bersama juga bermain dengan kucing yang ku suka. Aku khawatir sakit yang aku punya tak diterima, bahwa aku butuh tulus dan pelukan hangat saat aku sering mengeluh dan menangis kencang. Ya cukup ada satu pundak yang selalu ada dan penuh sabar pada aku yang terperangkap dalam jiwa seorang dewasa. Kepada ia yang mau menerima lukaku juga, namun aku tetap takut ia pergi bahwasannya tidak mampunya dengan keadaanku. Makanya aku banyak menutup pintu hati, pada yang suka melukai. Begitu mungkin caraku membentengi diri. Semoga bahagiaku juga perlahan kugenggam pelan.

Komentar

Postingan Populer