katanya aku tidak dewasa.
Aku pernah berbincang pada seorang yang aku hormati, di senggang waktu ia sepulang kerja. Orang yang aku terima hadirnya tetapi tidak aku ikuti ajarannya. Mungkin ini terkesan objektif, padahal ia orangtuaku lebih tepatnya bapak. Percakapan yang kadang sering diam-diam merenggut air mata untuk turun. Aku sebagai seorang anak dihadapkan pada posisi tanggungjawab atau hidup semauku. Beberapa hal memang aku pilih tanpa persetujuan, aku percaya hidupku milikku jalan ini akulah nahkodanya. Aku iri beberapa anak terlahir dengan orangtua berada mereka mampu membiayai sekolah anaknya sampai kejenjang perkuliahan atau hidup dengan kecukupan. Iri bukan karena mereka kaya, iri karena orang yg menjadi tulang punggung keluarga nyatanya bertanggungjawab membuat keluarganya hidup layak. Iri bagaimana kerja kerasnya membuahkan hasil untuk orang yang mereka sayang. Aku menulis ini bukan untuk menyalahkan bapak, aku harap mungkin suatu hari ia membacanya lalu paham bagaimana diam-diam anaknya sering bersedih karenanya. Kata yang selalu diucapkannya secara sengaja atau pengalih pembicaraan selalu dapat membuat aku menangis "udah besar harusnya makin dewasa jangan kayak anak kecil" aku balik menjawab "yang belum dewasa siapa? Ngga kebalik?" Jawabku frontal. Jangan pernah tanyakan seberapa dewasa karena ini bukan tolak ukur. Yang tahu diriku adalah aku sendiri. 5 tahun ini bagaimana segala sesuatunya seperti dicambuk setiap hari, apa aku pernah mengeluh lelah atau ditanya baik-baik saja. Tidak. Aku bertumbuh dewasa dengan netra dan telinga yang teramat lapangnya. Jika jiwaku tidak kuat, mungkin aku tidak bisa menulis saat ini sambil menangis. Aku rasa setiap individu punya otoritas untuk bersuara dalam keluarga. Saat ini aku paham menginjak umurku ke 22, aku dihadapkan situasi semakin was-was dengan masa depan. Karir yang belum jelas, kekasih yang aku sendiri belum menemukannya *curhat, memberi ortu meski tidak dimintai. Semua hal rasanya seperti berkesinambungan. Aku ada pandangan sendiri akan pernikahan bagaimana tidak semudah itu, banyak hal yang perlu dipersiapkan matang. Sebelum menikah aku harus punya tabungan untuk usaha aku ingin punya pekerjaan dirumah saja, juga biaya nikah perlu dipikirkan karena aku ingin dengan jerih payahku. Aku tahu orangtuaku seperti apa keadaan ekonominya, aku ingin mandiri. Yang membuat ini jadi lebih sulit karena pekerjaan yang harusnya aku bisa menabung untuk ini, justru masih abu. Tabungan usaha yang belum bergerak, renovasi dan keinginan kuliah terbelenggu. Oh maaf malah curhat kan, inti ini sebenernya bapak tidak pernah melihat usaha anak-anak mereka bagaimana ia menjadi dewasa. Sebagai seorang anak kita dihadapkan pada situasi yang mungkin sama seperti ku semoga kalian punya jalan sendiri untuk memilih, memilih bahwa dewasa adalah belajar bertanggungjawab. Aku harap kalian punya bahagia disetiap hari-hari beratmu. Salam hangat dariku.
Komentar
Posting Komentar