tempat pulang untuk sebuah pelukan.

Maaf, maaf karena aku masih secengeng saat kecil dulu. Menangis dengan begitu hebatnya juga lantangnya. Aku masih sama, anak manusia yang sedang belajar dewasa. Maaf jika aku terlalu banyak diam, kadang sulit diajak bicara saat marah. Kenapa aku suka sekali menangis? Kenapa kebahagiaan itu kecil? Apa yang membuat diri ini tidak pantas? Aku cuma anak kecil yang kadang sok menggurui, menjadi seakan-akan paling tahu banyak padahal tidak. Maaf, aku takut. Takut nanti aku pergi kamu sendiri. Aku tidak mampu meninggalkanmu tanpa memberi butuhmu. Kamu pernah selalu memberi saat aku belia. Aku tahu kamu pernah berjuang untukku, harusnya aku melakukan sebaliknya. Tapi apa bisa aku hidup dengan normal, menjadi anakmu yang tertawa lepas karena bahagia. Yang menangis tanpa terlalu sesak. Apa boleh aku memilih ketenangan ku? Aku mau hidup biasa saja tak perlu banyak harta, meski itu perlu untuk hidup. Aku mau tahu rasanya dicintai tanpa dibebani. Aku mau menemukan rumahku sendiri. Bolehkah pak? Aku lelah. Aku tidak tahu apa yang kamu pilih dalam hidup, sepertinya kamu tersesat. Apa yang bapak bingung tentang hidup? Aku mungkin bisa memberi saran semampuku. Tapi tolong biarkan aku menjalani kebebasan sebagai anakmu. Maaf saat ini pun aku masih menangis. Apa sikecil yang dulu berisik bisa sama? Apa akan ada yang menyembuhkannya? Aku ingi pelukan yang dulu pernah engkau kasihi, aku ingin jadi Kaka yang dulu sering meminta diajak keliling naik motor tetangga. Yang selalu kamu ingatkan untuk berpegangan pada pingangmu, saat aku mengantuk kamu selalu ceritakan banyak hal sambil memegang kedua tangan ini agar tak terlepas. Aku rindu masa itu. Bagaimana si brekele ini merasa dicintai dan tenang tanpa beban. Aku tahu aku bertumbuh terlalu keras, bukan? Diwaktu kamu mencoba memberitahuku hal menyakitkan, aku selalu patah. Iya, hati ini terlalu sering dipatahkan oleh orang yang pernah mencintai anaknya tulus. Ah cengengnya, anakmu ini nyatanya tak sekuat dirimu. Aku butuh rumah yang menerima jiwa rapuh ini, aku ingin dipeluk saat jatuh. Diusap air matanya saat bersedih. Aku sungguh ingin perasaan itu, menyakitkan bukan. Hidup berbanding terbalik, dan itu mengerikan.

Komentar

Postingan Populer