Pak Budi
Aku tahu seseorang yang mengajariku ikhlas senantiasa bersyukur, ia belajar seperti udara yang Tuhan beri secara cuma-cuma begitulah caranya. Memahami betul bahwa hidup bukan arena berlomba, mungkin iya berlomba tapi untuk mampu hidup lebih layak. Ia sungguh manusia yang tahu esensi Tuhan. Beri tahu aku cara untuk sepertimu? Seorang yang hatinya begitu tulus, aku mendengar cerita-cerita kecilmu saat aku pulang kerja dulu. Dia selalu mengantarkan aku dengan bus reotnya, tentu bukan miliknya perusahaan yang pelit tentu yang punya. Bagaimana dirimu tidak disukai oleh orang yang sama bekerja sepertimu, menjadi seorang supir pribadi oleh pemilik jabatan. Lalu kamu bercerita keluar kerja dengan dalih "lebih baik keluar daripada tidak disukai orang, mengalah tidak apa-apa rezeki sudah diatur". Aku yang menentang alasan itu "tapikan pak Budi ngga salah, kenapa harus keluar" aku yang sedikit kesal oleh temannya "ngga papa mungkin belum rezekinya di situ ndo" kamu dengan begitu tulusnya. Huh, bagaimana aku tidak mengidolakanmu? Berjuang dan tahu potensi dirimu. Kamu tahu bagaimana mencari sambilan, dan itu apa yang kamu tekuni dan sukai. Aku yang selalu mengintip disela-sela makan, kamu sedang memainkan orgen menyentuh tuts nadanya dan menyuruh aku menyanyikan lagu tapi aku malu. Aku yang selalu belajar memahami hidup dari orang sekalilingku, bagaimana ia memberi, memandang, ataupun merasakan menjadi manusia. Aku teramat bersyukur aku pernah bertemu dengan manusia sepertimu. Menjadikan sopir jemputan kerja pekerjaan, lalu service mobil mainan bekas untuk dijual kembali sebagai sampinganmu, dan orgen tunggal sebagai hobimu. Sungguh aku kagum Pak Budi, aku harap lebih sering dipertemukan orang baik seperti dirimu. Terimakasih atas pengertian hidup darimu, sungguh aku teramat belajar.
Komentar
Posting Komentar