Ruang Baca
Belum lama aku mulai memikirkan eksistensi sebagai manusia berguna yang tidak begundal. Bagaimana cara jadi manusia berguna? duit lu kaga ada coy, semua kalo mau bikin something to give pasti butuh uang. Kepikiran kalo kaya bisa volunter sambil traveling dan bikin masjid pelosok atau perbaikan sekolah, atau bikin perpus mini depan rumah karna ada lahan untuk itu, bikin brand sekalian berdonasi itu oke banget sih. Semua butuh modal dan ngga mudah, perlu nabung aku takut waktunya belum cukup dan keinginan belum bisa diwujudkan. Terkadang aku ingin orang-orang tidak perlu mengenali aku siapa, tapi saat pergi mereka tau siapa aku. Aku ingin berkesan dihati mereka, aku ingin membuat gebrakan karya. Pernah aku mendengar suatu quote seperti ini ''Bumi itu terlalu luas sedang waktu kita terlalu sedikit untuk menjelajahnya" banyak manusia tidak berpikir bisa saja besok kita pergi tanpa pamit, tanpa memberi kesan, dan pesan.
Aku selalu berfikir untuk hidup yang singkat ini aku ingin menulis, aku ingin seseorang yang kukenal membacanya saat ia rindu, atau saat ia butuh tahu pemikiranku. Aku ingin pamit dengan caraku dengan banyak cerita di blog ku dengan banyak gelap dan terangnya, yang aku perlihatkan, yang bisa aku tuangkan. Mungkin saat ini belum ada yang membacanya, mungkin nanti esok atau lusa disaat aku pergi entah kapan waktunya. Aku harap Tuhan beri tahu seseorang agar tulisan ini menjadi sebuah buku dengan aku didalamnya. Itu sunggu indah.
Aku paham betul bagaiman menilai karakteristik seseorang dari gerak-gerik wajahnya sungguh tergambar aku suka Tuhan menciptakan wajah manusia yang berupa dan beragam ekspresi didalamnya. Pada saat aku menulis ini aku sedang sakit, ada perasaan takut pergi dari bumi ini, tunggu rasanya ingin menangis. Aku yang selalu diam merenung, bicara sendiri dengan diriku terkadang ingin juga dimengerti orang lain. Perasaan ketika bahagia, sedih, terluka aku ingin seseorang paham. Andai saja suatu hari ia membaca aku menganggumi sosoknya, tetanggaku. Sosok yang mungkin diam tapi aktif, sungguh ia seperti angin yang enggan dipeluk. Bolehkah aku menulis inisialnya R. Tunggu pasti tulisan awalku tidak nyambung malah jadi ke seseorang yang kusuka tapi bolehlah sedikit cerita. Aku masih ingat, ia yang tidak kukenal instagramnya memfollowku lalu adikku memberi tahu kalo ia tetanggaku. Aku yang awalnya hanya suka feed ignya malah jadi stalking sosial medianya. Sulitnya aku sampai tidak sengaja mengelike tweetnya lalu difollow sial, ketahuan kan. Pernah satu waktu ia secara tidak langsung memberi semangat menurutku, lewat dm dengan quote lalu kubalas tapi aku hanya di read tengsin sekali. Beberapa kali sempat papasan di jalan saat aku sedang cfd naik motor ke alun-alun ia lari sendirian dengan baju dan celana hitam dalam hati "Alhamdulilah hari keberuntungan'', rasanya pengen naro motor lalu lari bareng eaa. Dan saling tatap, duh gimana sih kaya di novel ya. Saat agustusan tahun 2020 ia menonton lomba, aku bersama bapak karna bapak main badminton. terakhir kali saat nonton ia main sepakbola, dan ia diwaktu yang berbeda juga menonton. Sudah, sepertinya mengagumi sungguh cukup, tau diri aku bukan siapa-siapa. Tangan ini mulai pegal keyboardnya lumayan keras. Dahlah semoga ngga kebaca orangnya, takut secret admirer mah ngga usah banyak tingkah.
Belum selesai, kan mau cerita. Aku suka baca lagi, ini blog mah suka salah haluan cenah. Aku spending uang buat nyisihin beli buku minat bacaku naik karna gabut, kerja di konter cuma main hp bukan gayaku aku kurang suka main hp terus-menerus kaya membosankan aja. Alasan aku mulai beli buku dan ngga sayang uang karna pengen punya ruang baca. Biar bisa memfasilitasi anak-anak didesa punya literasi. Yah meski bukunya belum banyak. Aku juga belum bisa bikin gazebo buat mereka yang mau baca, sambil ngobrol berat biar seru aja sih. Aku suka banget ngobrol berjam-jam ngomongin aspek hidup tanpa bosen, makanya sekalian memfasilitasi diriku sendiri untuk membaca.
Komentar
Posting Komentar