Drakor dan Sinetron Indonesia
Sebagai pengamat drakor yang cukup kritis ternyata drama koriyaa dan drama indo biasa disebut sinetron banyak perbedaan signifikan rupanya. Yang paling kontras terlihat dari segi sinematik, storytelling, episode dan jam tayang. Bukan ingin membandingkan cuma kalo bisa para produser bisa memperbaiki cineas perfilm Indonesia melalui sinetronnya juga, ya gimana mau banyak peminat yang nonton tv kalo ngga berkembang sedangkan sekarang tentu sudah kalah dengan gadget dan apps untuk nonton lainnya. Tv sekarang cuma pajangan di setiap rumah.
Sebagai fans drakor karena ada beberapa cerita yang bikin Wow dan Uah, aku pribadi suka cerita yang out of the box dan mencakup kehidupan sehari-hari. Sinematik yang ciamik yang disuguhkan gambaran sinetron seperti nonton film, dengan color grading dan bluring yang smooth. Banyak hal yang aku baru tau saat menontonnya. Seperti: profesi pengacara, polisi, tentara, orang kantoran, chef etc. Intinya sinetron indo kurang detail dan plotnya kurang ngena. Yang paling sering sinetron ya adanya anak remaja sekolah cinta monyet, lalu ada cewe dagang di tabrak orang kaya jatuh cinta, atau target pasar mereka para ibuk-ibuk jadi dikasih sinetron yang complex berepisode-episode.
Padahal kalo mungkin dari kreator yang nulis atau si pencari cerita teliti, wattpad bahkan sekarang ceritanya kaya drakor mereka bisa ngambil ceritanya dan tadaam! penulis lokal juga akan merasakan naik daun. Episode banyak belum tentu cerita bagus, bisa saja cuma cara agar rating tetap ada atau mereka belum tau kalo serialnya habis mau bikin apa. Lalu jam tayang, kalo boleh sih ada cerita tentang anak-anak, remaja atau dewasa diwaktu yang tepat karena dengan begini anak-anak ngga melulu terpaku pada gadget atau para dewasa yang butuh hiburan akan menunggu-nunggu kapan tayang. Hype saat menonton hiburan di tv masih ada dan kerasa seperti aku masih kanak-kanak di tahun 2000-an.
Aku pengen sih kalo bisa jadi produser atau bagian skrip cerita bisa ngarahin agar persinetronan Indonesia makin keren kaya kita nonton drakor. Bahkan orang luar nonton drakor meski ngga tau artinya mereka tetep nungguin walau pake subtitle karena melekat dihati, Indonesia harus bisa bikin orang luar juga begitu. Aku sungguh tertarik dibidang seni videografic dan cinematik, yang aku tulis mungkin hanya sebuah opini orang biasa tapi ngga ada yang tau berapa tahun lagi mungkin aku bisa jadi luar biasa entah dengan apa. Amin.
Komentar
Posting Komentar