Sebuah Wantex Hitam

Inalillahi wa innailaihi rojiun

Tadi malam aku sungguh tidak menyangka seorang saudara baru saja berpulang. Ada sebuah kehilangan yang membuat kaki melemas dan sesak. Karena ia selalu kulihat di setiap pagi dari jendela kamarku. Ia yang sedang bertani di lahan depan rumahnya. Aku tidak begitu mengenal sifatnya, tapi ia sepertinya banyak memikul berat dalam diam. Bagaimana ia bertanggung jawab atas keluarganya aku bisa melihat sebuah pengorbanan. 

Ia yang tiba-tiba pingsan lalu meninggal ku pikir hanya sebuah sakit biasa, tapi setelah dipikirkan mungkin saja serangan jantung mendadak mengingat bapakku mengatakan ia memiliki darah tinggi. Sesuatu yang lebih sering terlihat saat pergi lebih terasa asing, sebuah kehilangan. Ia yang mengurus ortunya, juga seorang istri pasca oprasi yang harus sering check up, dan seorang anak perempuan yang sedang mengandung. Aku merasa ia kurang diperhatikan kesehatannya, juga kelelahan fisik dan mental. Percakapan kami terakhir kali mungkin saat ia meminta sebuah wantex padaku ia bilang ingin mewarnai pakaian yang luntur kuberikan semua sisa yang kupunya. Aku masih ingat ia mengatakan "ka digantikna ra ki, ne tuku maning njaluk bae duite meng lelek mengko di ganti" aku hanya mengatakan "rausah lek uis ra dienggo juga, enggo bae" dengan cengengesan. Sebuah wantex hitam yang kuberikan ternyata sebuah pemberian terakhirku untuknya. Semoga Lek Puji diterima segala amal baiknya, aku sangat teramat yakin ia mendapat tempat terbaik karena hari ini adalah hari Jum'at. Hari baiknya umat muslim, aku dan mungkin banyak orang ingin pulang di hari ini. Sempai bertemu kembali lek, selamat beristirahat panjang dengan tenang Insyaallah khusnul khotimah.

Komentar

Postingan Populer