Berpulang.
Sejelas yang terlintas dan terekam pada memori di kepala. Pepisahan paling menyedihkan adalah pergi tanpa pertemuaan. Satu lagi keluarga t'lah berpulang. Rasanya baru kemarin ia berkunjung sejenak. Mengobrol dengan rama lalu hendak pergi. Kakinya tertatih-tatih melangkah dengan tongkat kayunya digenggam kuat pada tangan kanannya, ia menuruni tangga rumah perlahan dengan penopangnya. Lemah sudah mbah sapar, sang wanita t'lah tiada dan kini ia menyusul ke alam baka. Banyak dari mereka yang pergi, justru membekas dihati. Tutur yang menjadi penegak luruh pedih nasib, yang kadang tak bisa dimengerti. Petuahnya, nasihat baik penuh arti yang masih aku ingat. Banyak dari mereka yang tahu keluargaku, tidak banyak berucap menguatkan justru bercanda membuat aku sedikit lega tak banyak beban tentunya. Almarhum mbah ngalimi, mbah sumeh orang yang mengenal keluargaku dengan baik sampai detik ini tidak kusangka mereka t'lah tiada. Ada yang hilang dari hati ini seperti hancur namun berusah sadar dan paham, mereka punya takdirnya masing-masing. Manusia punya, aku juga suatu hari akan menyusul seperti mereka. Aku harap akan ada hal berguna untuk ditinggalkan, ilmu untuk mereka yang mencari saat aku tiada dengan caraku sendiri.
Komentar
Posting Komentar