Broken Home
Pasti konotasinya jelek kalo denger tulisan ini 'broken home'. Itu orangnya kudu di sikat otaknya anjir. Padahal menurutku semua keluarga yang mempunyai rumah, sebagai tempat mereka hidup punya hati patahnya masing-masing. Ngga melulu mereka yang keluarganya pecah ngga bahagia, bisa aja yang utuh tidak baik-baik saja. Memang yang paling menyebalakan di negeri ini rasanya tabu sekali kata pisah. Padahal diluar negeri hal semacam ini tidak terlalu jadi besar. Mungkin jika pada akhirnya pisah mereka memang sedang dikasih ujian dan tidak dipersatukan. Hidup sejatinya arena belajar.
Saat menjadi 'Rumah Tangga'. Keluarga nyatanya tidak bisa hanya jadi satu saka, butuh lebih untuk kokoh bangunannya. Dua kepala dengan dua pemikiran beda. Saat banyak hal terlalu timpang niscaya rumahnya patah, rubuh. Pernikahan memang sesuatu yang berat ya, makanya harus banyak-banyak belajar. Mulai dari mencari teman hidup yang pas, jangan sampai sudah melangkah jauh tapi berhenti ditengah jalan. Mempertahankan hubungan memang sulit, butuh komitmen, sabar, percaya, jujur.
Seorang anak introvert yang tidak pernah memulai suatu hubungan menjadi sok tau tentang ini. Kalau ditanya apa pengalaman cukup? Belajar dari ortu yang gagal aku bisa dikatakan korban, atau sang pembelajar. Aku yang lebih sensitif dengan orang-orang disekitar, menjadi sedikit lebih peka. Aku tidak sekritis itu untuk tau banyak hal, hanya anak manusia yang sedang muhasabah. Terkadang kelelahan dengan keadaan, dan hidup untuk hal yang aku sendiri kadang tidak paham.
Ada saat-saat aku menjadi manusia yang iri. Kenapa keluargaku tidak seperti mereka? Andai aku adalah dia? Semua hanya memberikan luka. Pelan-pelan aku sadar, harus lebih bersyukur. Banyak orang yang tidak mengalami hal itu, aku tau Tuhan kasih ini karna aku bisa. Aku si kuat haha.
Komentar
Posting Komentar