Semua Sudah Diatur

Senin,14:31(12/11/18).

Mendadak akhir-akhir ini aku kepikiran tentang ini. Aku tahu ngga seharusnya berpikir sejauh ini, karena semua telah ditulis di lauh mahfuz. Manusia hanya ditugaskan untuk melakukan sesuatu yang positif dan berguna semampu yang mereka bisa. Aku pun masih perlu banyak belajar tentang agamaku ini, banyak hal-hal penting yang belum kuketahui oleh daya serap otakku.

Aku kadang perasan atas kematian karena aku ngga tahu seberapa lama aku masih ada didunia ini. Aku takut jika aku pergi belum banyak perubahan yang terjadi pada kepribadianku atas orang-orang tersayangku. Pergi disaat mereka masih betah atas kehidupan dunia yang fana, takut-takut mereka belum menjemput hidayah-Nya. Bahakan aku sempat berfikiran semoga Allah dengan kemurahannya mengizinkan aku melihat mereka semua memperoleh hidayah-Nya. Itu yang aku inginkan jika aku lebih dulu pergi, jika mereka orang-orang yang aku sayang pergi lebih dulu semoga mereka sudah menjemput hidayah-Nya sebelum ajal mereka datang.

Lalu jodoh, aku kadang memikirkan sebuah keluarga harmonis yang punya sangga atau pondasi yang kokoh untuk menghadapi perkembangan yang semakin pesat dan kejam. Aku ingin yang jadi jodohku seseorang yang punya satu visi misi dalam agama Allah. Bisa membimbing disaat bimbang, tahu agamanya dan mau belajar sama-sama tentang apapun mengenai hidup. Tapi, tetap aku berfikir realistis tentang kematian aku ngga mau terlalu jauh berangan karena hanya membebani diri sendiri.

Ada baiknya kita lebih mengenal pencipta kita, mendekatkan diri atas perilaku yang mungkin buat kita jadi hambanya yang berdosa.

Rezeki, semua telah tertulis dengan jelas kapan dan dikeluarkannya sesungguhnya tapi ada rasa ingin memilikinya segera. Sabar. Memang seharusnya itu yang menjadi pokok dalam segala aspek kehidupan, mau sekeras apapun jika Allah belum berkehendak ikhlaskan saja. Terus terang pasti ada sedikit rasa iri yang tercuat namun kembali lagi sabar adalah kuncinya.

Semua yang aku rasain ini ternyata bentuk kesadaranku bahwa, kita ada untuk diberi beberapa cobaan dari-Nya. Dari batin maupun aspek kehidupan yang sesungguhnya semua itu semata-mata untuk mengukur kualitas keimanan seorang hamba kepada sang pencipta. Aku belajar sabar, ikhlas, optimis atas apa yang mungkin suatu hari terjadi padaku.

Komentar

Postingan Populer