Bertanya.

Berbincang singkat soal kehidupan dengan teman lama. Entah mengapa ia mencoba mempertanyakan masalah keluarga. Ia memberiku pertanyaan beruntun yang membuatku sejujurnya agak risih dan tersinggung. Aku jawab sekenanya, malas. Rasanya menyesal berjumpa, justru membuka luka lama. Aku tahu semuanya telah aku ikhlaskan, hanya saja masih kecewa jika ada yang mempertanyakan secara berulang. Manusia itu terlalu banyak bicara, sulit untuk menahannya. Mengambarkan apa yang ia peroleh, ditambah kadang dikurangi. Membuat deskripsi orang dengan caranya masing-masing. Bisa dikatakan bergunjing. Seyakinnya aku pribadi selalu waspada, bukan karena tidak percaya. Hanya saja takut untuk dikecewakan. 

Mungkin aku terlalu menaruh curiga sampai menuduh ia menceritakannya. Aku hanya berjaga-jaga sejujurnya. Apapun tanggapan mereka jika aku terlalu pede karena tuduhan tak terduga, tidak apa dari pada aku tidak mengetahui kejelasan ceritannya. Lagi sangat susah pecaya pada omongan mereka. Manusia memberi validasi atas apa yang mereka terima dengan sendirinya. Omong kosong bisa bungkam begitu saja. Maaf bukan maksud aku mencuriga hanya saja ini adalah petahanan yang aku bisa. Mungkin kamu kecewa dan terluka, tidak ada maksud aku menghakimi semata. Tulisan ini mungkin bisa kamu mengerti betapa aku sejujurnya sedikit terluka pada pertanyaan beruntun tentang keluarga. Kita baru saja berjumpa, namun kamu terlalu tergesa-gesa bertanya. Sekian dan maaf untuk kesekian kalinya.

Komentar

Postingan Populer