Manusia Tempurung.

Ia memulai pencarian. Dia yang pernah dipatahkan, memungut serpihan yang berpencar. Perempuan yang tertutup dari dunia luar, waktu keluarnya hanya saat lapar. Dia yang masih terkungkung dalam tempurungnya. Katanya ia butuh seseorang, bukan pangeran! Tukang palu, ujarnya. Memikirkan siapa orang yang mampu pecahkan tempurungnya? Menjadi berani keluar rumah gelapnya. Wahai perempuan yang menunggu tanpa kepastian, yang tak henti-hentinya berjalan. Kadang ia kelelahan, dunia kadang tidak seperti tempurung kesunyian. Pernah ia temui rumahnya, namun tak lagi dapat ditemukan. Perpisahan, membuat ia tak dapat kembali kerumah yang ia idamkan. Terkadang dalam tempurung gelapnya ia sungguh merasa kesepian. Hujan datang seperti tidak diundang. Rumahnya kebanjiran, yang jatuh bukan air berkah Tuhan. Matanya sungguh tidak bisa berkompromi sebentar. Terlalu lama dia memendam dukanya. Andai ada si tukang palu yang memberikan rumah dan pelukan. Menerima dirinya yang ringkih, karena terlalu banyak sakit ditubuhnya. Sekali waktu ia bertemu kawannya, mencerita kepedihannya. Ujar temannya "sudah tak usah bersedih selalu," jawabannya tidak melegakan. Kembali ia kedalam tempurung kelam, menelisik hati siapa yang bersalah. Perempuan yang rapuh hati dan jiwanya. Tempurung adalah rumah untuknya. Tuhan berkata, semua pasti akan indah pada waktunya. Tertatih-tatih disaat fajarnya, terlalu letih pada senjanya. Gelap yang selalu kamu benci adanya. Ada harapan kecil pada hati yang luka, keinginan untuk bertahan dan menemukan. Perempuan yang masih menunggu si tukang palu, apa bisa kamu menahan? Menahan keinginan untuk tidak mengecewakan. Ayo aku mau kita berjalan beriringan, bergandengan dengan senyuman. Kamu yang masih mencoba menyembuhkan, kamu berhak mendapatkan dia yang akan menghancurkan tempurung kegelapan.

Komentar

Postingan Populer